Followers

Minggu, 15 Juli 2012

Malam Ini


Malam ini sebenarnya mau nulis banyak hal, dan mayoritas bertemakan keceriaan. Tapi entah kenapa malan ini, hati tak mau diajak kompromi. Rasanya tidak mengenakkan, apalagi untuk keceriaan.

Malam ini ingin menggalau. Bukan, bukan, sepertinya bukan karena kopi sore tadi yang membuat detak jantungku tidak seperti biasa karena sebelumnya sudah terbiasa.  Tapi, banyak yang terfikir tiba-tiba.

Akhir-akhir ini banyak hal yang ku sadari. Sepertinya, ah.. bukan sepertinya, tapi memang iya. Semakin lama justru semakin sombong, semakin memendam iri, semakin mudah benci serta semakin dibenci. Dan semakin aku menggores lembar ini, semakin tak enak rasanya diri.

Tak tahu kapan tepatnya sifat-sifat ini berkembang kembali. Hingga, sikap teman-teman lah yang membuatku menguak kembali bagaimana hingga aku sampai di sini, begini.



SD 
Akubelum mengetahui bagaimana persahabatan yang baik. Mungkin saat itu kufikir, prestasi-lah yang utama. Dan juga teman-temanku...., ah benar-benar bukan kenangan yang indah. Seperti sinetron kubilang. Saling fitnah dan ... ah, sudahlah.

SMP
Aku mulai menemukan ritme. Mulai mencari eksistensi diri. Dan, saat itu mulai bisa mengendalikan keadaan. Tapi, tetap saja masih sangat labil.

SMA
Mulai menemukan eksistensi, terutama dalam organisasi. Bahkan, kesenangan berorganisasi membuatku lupa akan prestasi. Mungkin juga lupa bahwa aku adalah seorang murid SMA biasa. Sikapku, bicaraku, aku dapati berubah. Tentu saja ini di luar kesadaranku. Aku merasa mereka tak mengerti. Ya memang beginilah aku. Pencitraan menyebalkan yang sering tidak sesuai dengan hati, dan sekali lagi, tanpa kesengajaan.

Oh, tidak. Salah. Akulah yang tidak mengerti mereka. Tak mau kompromi dengan situasi. Dan semuanya ku mau tidak begini.

Sekarang, akulah yang seharusnya berubah. Menerima semua yang terjadi sudah. Di awal penghujung sekolah tingkat atas-ku ini, ku coba menerima apa adanya. Tanpa pilah-pilah serta berserah. Mungkin aku akan lebih pendiam. Bukankah lebih baik pendiam dari pada berbicara hal yang menyakitkan?
Juga, mulai menjaga hati dalam berkawan. Tak terlalu berharap akan teman setia atau yang biasa disebut sahabat. 

Ku biarkan semua berjalan apa adanya. Dan ku yakin, Tuhan akan tunjukkan jalannya.

2 komentar:

Your comment will improve me :))