Followers

Senin, 31 Desember 2012

Ambar

Aku sedang melihat video kita saat bahagia serta sesak dada menyeruak bersamaan. Video saat kau menyatakan perasaanmu padaku. Kau biang bersamaku sangat berarti. Kulihat senyummu di situ, tulus,  meski tak benar-benar lepas karena hal yang telah terjadi dalam hidupmu. Aku yang selalu yakin untuk mengembalikan senyum lepasmu kini goyah. Entah mengapa, rasanya menyakitkan.

“Aku Ambar, tapi bukan Ambar.” bisikku.

Memori batinku menyela tangisku. Aku bersyukur bisa mengenalmu. Awalnya kau tahu namaku pada sebuah situs pertemanan. Mencari tahu seluk belukku lewat dunia maya. Menjadikan kita saling mengenal. Entah mengapa dulu kau hampir tak percaya seorang Ambar masih ada. Hingga saat kita bertatap muka secara langsung, matamu tak berpaling dari sosokku. “Kamu Ambar? Kamu benar-benar Ambar?” katamu dengan mata berbinar saat melihatku pertama kali secara langsung.

Aku kagum denganmu yang mandiri. Kadang aku juga iba. Kedua orang tuamu sudah tidak ada di dunia. Di usiamu yang masih muda, kau sudah bekerja untuk membiayai hidup sekaligus sekolah adikmu. Namun kau selalu tersenyum, menyembunyikan pahitnya hidupmu. Kau selalu bilang bahwa kebersamaan dengan orang-orang yang disayang sangatlah berharga, tak ingin kehilangan momen spesial bersama mereka. Aku menjadi  bertekat mengembalikan senyum lepasmu. Maka saat kau meminta aku selalu berada di sisimu, aku pun mau.

Selasa, 25 Desember 2012

Danur

Penulis: Risa Saraswati
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: 216 hlm
Penerbit: Bukuné
ISBN: 602-220-019-9
Harga: Rp30.000,00




Sinopsis
Jangan heran jika mendapatiku sedang berbicara sendirian atau tertawa tanpa seorang pun terlihat sedang bersamaku. Saat itu. mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.

Kalian mungkin tak melihatnya.... Wajar. Mereka memang tak kasat mata dan sering disebut... hantu. Ya, mereka adalah hantu, jiwa-jiwa penasaran atas kehidupan yang dianggap mereka tidak adil.

Kelebihanku dapat melihat mereka adalah anugerah sekaligus kutukanku. Kelebihan ini membawaku ke dalam persahabatan unik dengan lima anak hantu Belanda. Hari-hariku dilewati dengan canda tawa Peter, pertengkaran Hans dan Hendrick—dua sahabat yang sering berkelahi—alunan lirih biola William, dan tak lupa: rengekan si Bungsu Johnsen.

Jauh dari kehidupan "normal" adalah harga yang harus dibayar atas kebahagiaanku bersama mereka. Dan semua itu harus berubah ketika persahabatan kami meminta lebih. yaitu kebersamaan selamanya. Aku tak bisa memberi itu. Aku mulai menyadari bahwa hidupku bukan hanya milikku seorang....
Namaku Risa. Aku bisa melihat 'mereka'.
Dan mereka", sesungguhnya, hanya butuh didengar.

Danur merupakan buku yang membuat mata saya lebih terbuka lebar untuk melihat hal-hal yang hal-hal yang lebih luas.

Rabu, 19 Desember 2012

Rindu Awan

Kau tahu awan
Dia merindu
Ketika hujan
Pada warna bersemu

Nila mengantarkan gumaman
Tentang rupawan
Cerminan rintiknya
Pada balik sinarnya

Pesan awan sampaikan pada senja
Senja katakan ia tak jumawa
Lamunan awan lemparkan pada bumi
Bumi beritahu ia tak bersama pelangi