Followers

Senin, 31 Desember 2012

Ambar

Aku sedang melihat video kita saat bahagia serta sesak dada menyeruak bersamaan. Video saat kau menyatakan perasaanmu padaku. Kau biang bersamaku sangat berarti. Kulihat senyummu di situ, tulus,  meski tak benar-benar lepas karena hal yang telah terjadi dalam hidupmu. Aku yang selalu yakin untuk mengembalikan senyum lepasmu kini goyah. Entah mengapa, rasanya menyakitkan.

“Aku Ambar, tapi bukan Ambar.” bisikku.

Memori batinku menyela tangisku. Aku bersyukur bisa mengenalmu. Awalnya kau tahu namaku pada sebuah situs pertemanan. Mencari tahu seluk belukku lewat dunia maya. Menjadikan kita saling mengenal. Entah mengapa dulu kau hampir tak percaya seorang Ambar masih ada. Hingga saat kita bertatap muka secara langsung, matamu tak berpaling dari sosokku. “Kamu Ambar? Kamu benar-benar Ambar?” katamu dengan mata berbinar saat melihatku pertama kali secara langsung.

Aku kagum denganmu yang mandiri. Kadang aku juga iba. Kedua orang tuamu sudah tidak ada di dunia. Di usiamu yang masih muda, kau sudah bekerja untuk membiayai hidup sekaligus sekolah adikmu. Namun kau selalu tersenyum, menyembunyikan pahitnya hidupmu. Kau selalu bilang bahwa kebersamaan dengan orang-orang yang disayang sangatlah berharga, tak ingin kehilangan momen spesial bersama mereka. Aku menjadi  bertekat mengembalikan senyum lepasmu. Maka saat kau meminta aku selalu berada di sisimu, aku pun mau.

Aku masih melihat video kita saat tiba-tiba dering telepon seluler CDMA-ku berbunyi, menunjukkan foto pemanggilnya, yaitu kamu. Beberapa kali namun enggan ku angkat. Belum semenit kemudian ada pesan singkat darimu, bunyinya, “Ambar, ini second anniversary kita. Tidakkah kau ingin merayakannya bersamaku?”
Aku mau, tapi ragu. Kau mengajak Ambarmu, kekasihmu dulu, bukan aku.

Bersama dengan itu, sesosok gadis yang sekilas mirip denganku dengan kepala berdarah dan lebam di beberapa bagian tubuhnya menghampiriku. Tak ku lihat kakinya menapak layaknya manusia. Ia menggenggam dingin tanganku seraya berkata dengan bibir pucatnya, “Aku Ambar. Aku tahu kau bukan aku, tapi tolong tetapah di sisi Rudi. Saat bersamamu begitu berharga daam hidupnya. Yakinlah, Ambar, suatu saat nanti kamu akan bisa melukiskan senyum lepasnya, sebagai dirimu.”

24 komentar:

  1. Bagus tulisannya, sis...Thanks sharingnya!
    Salam kenal dan Selamat Tahun Baru 2013...Kalau berkenan mau ngundang untuk ikutan gabung dengan teman-teman lain yang sudah SUBMIT URL BLOG-nya ke Direktori Weblog Indonesia :)

    BalasHapus
  2. Bagus tulisane, BTW 2nd universaire cowok cewek? ato cewek-cewek ya? :D salam kenal

    BalasHapus
  3. hmm,perpaduan kisah nyata tch...

    BalasHapus
  4. singkat padat dah penuh dengan makna

    BalasHapus
  5. Kata-katanya terlalu tinggi, hingga orang awam seperti aku nggak ngerti. :D

    Selamat Tahun Baru mbak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hyaah -__-

      Aku aja mungkin yang ga jelas ceritanya :D

      Hapus
  6. Kunjungan Rutin Kawan....

    Izin Simak Artikel-Artikel Blog Mu....

    Jangan Lupa Kunjugan Baliknya...

    BalasHapus
  7. ini untuk Flash Fiction ya.. moga sukses, aku masih kagok bikin fiksi jadi belom ikutan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya :)

      Yang penting coba nulis aja dulu, pasti bisa:)

      Hapus
  8. jadi ambar itu udah gag ada, mirip gitu wajahnya yaa mbak???

    eeh seru bagus ini ceritanya, keren :D

    Inget nama ambar, jadi inget dosen bhasa inggris deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, betul :)

      Hehe .. Makasih :)

      Wah, pasti cantiik ya orangnya ? hihi

      Hapus
  9. Cerita diatas itu menceritakan antara Ambar asli dan palsu ya?

    Ambar terkenal ya. Eh... tahu gk, Ambar itu temenku wktu SD loh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ambar yang sudah meninggal dan Ambar yang masih hidup :)

      Hehe iya ..
      Dia adik kelasku juga .. *EH

      Hapus
  10. Fiksi yang unik.
    Dua Ambar bertegur sapa dengan cara masing-masing.
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus

Your comment will improve me :))